Menurut wargi, apa sih yang paling ditakuti dari Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan ini? Pernah gak sih terbayangkan semua hal yang terjadi saat ini pada beberapa tahun lalu? Pastinya enggak kan. Apalagi setelah setahun pandemi, kita tengah mengalami gelombang kedua pandemi. Nah, pertanyaannya, apakah ini semua akan semakin buruk dan berkepanjangan? ataukah kita masih bisa merasakan semua rutinitas seperti normal sebelum pandemi Covid-19 melanda dunia?
Di video ini, admin akan berbagi buah pikir, mengenai 3 hal yang seharusnya paling kita takuti dari Pandemi Covid-19 ini. Stay Tune ya!
Pertama-tama, video ini hanya hasil sharing saja. Sekalipun disertai beberapa data, tetapi admin sangat terbuka jika ada yang mau didiskusikan di kolom komentar. Yuk langsung aja. Jadi kira-kira coba tebak, apa yang paling admin #seputarmaja takutkan dari pandemi ini? terinfeksi, sakit, dan merenggang nyawa? itu sudah pasti, semua orang pun pasti takut. Atau, kehilangan orang-orang yang kita sayang? Ya, saya juga takut akan hal itu. Tapi, meskipun demikian, bukan kedua hal itu lah yang admin takutkan. Lalu apa?
Kesenjangan Sosial
Yaps! jangan salah Berdasarkan Data Pusat Statistik angka Ratio Gini bulan Maret 2020 adalah 0,381 meningkat menjadi 0,385 pada bulan September 2020 yang terakhir di rilis Februari kemarin. Naik sebesar 0,004. #FYI aja, Ratio Gini adalah indeks yang menggambarkan tingkat kesenjangan sosial-ekonomi suatu negara. Semakin besar nilainya, semakin lebar juga kesenjangannya. Kenaikan ini jelas dipengaruhi oleh Pandemi COVID-19, banyak yang memprediksi angka ini akan terus melonjak naik apabila tidak ada stimulasi komprehensif dalam sektor ekonomi. Apalagi jika aliran dana bansos tidak dikawal dengan baik, duh!
Nah! dalam keseharian pun, kita bisa mendeteksinya lewat akses-akses yang bisa dirasakan oleh masyarakat golongan menengah ke bawah. Sebagai contoh, akses kesehatan. Coba anda bayangkan, bagaimana jika keluarga yang sumber pendapatannya harian, harus mengeluarkan dana lebih untuk cek kesehatan, tes SWAB, beli multivitamin, beli obat-obatan COVID-19, tabung oksigen, dan lain-lain? tentu mereka tidak dapat menjangkaunya. Kemudian akses transportasi yang mensyaratkan mereka harus tes SWAB, surat-surat, dan segala tetek bengeknya. Sehingga menuntut masyarakat untuk bepergian dengan kendaraan pribadi agar sedikit merasa lebih aman ketimbang menggunakan transportasi umum. Belum lagi akses internet dan pendidikan, bagaimana jika mereka adalah keluarga yang belum memiliki perangkat gadget yang kompatibel? Tentu, harus mengeluarkan dana yang lebih lagi. Sementara itu, semua akses-akses tersebut di atas, hanya bisa dinikmati oleh keluarga-keluarga yang berpendapatan menengah ke atas.
Kesenjangan ini jika semakin melebar, tentu akan berpotensi menimbulkan penyimpangan-penyimpangan sosial. Misalnya pencurian, perampokkan, dan yang paling saya takutkan adalah penjarahan.
Kesenjangan Pola Pikir
Sulitnya akses internet dan informasi yang baik, membuat sebagian warga Indonesia mudah sekali menelan HOAX dan Disinformasi. Kominfo berhasil menemukan 1.401 hoax yang menyebar di masyarakat terkait COVID-19. Selain ada hoax dan disinformasi, juga ada istilah yang perlu kita sebenarnya sangat dekat dengan kita, yaitu False Belief. False Belief sangat umum terjadi di masyarakat yang sangat minim edukasi dan kurang memiliki nalar kritis pada suatu informasi. Contoh sederhananya adalah fenomena susu beruang yang dianggap dapat mengurangi gejala atau mengobati pasien COVID-19 sehingga peredarannya menjadi langka. Atau tentang tentang Singapura yang "Berdamai" dengan COVID-19, di-framing bahwa seakan-akan singapura telah menganggap bahwa COVID-19 tidak ada, COVID-19 hanya mitos?! Itu lah yang terjadi saat ini. Yang menimbulkan polarisasi di masyarakat yang percaya dengan fakta bahwa COVID-19 memang ada, dan yang menganggap COVID-19 hanyalah konspirasi elit global. Hal ini jika dibiarkan, akan memicu konflik di tengah-tengah masyarakat.
Perpecahan Suatu Bangsa
Perlu kita sadari bahwa yang terjadi saat ini bukanlah lagi krisis Kesehatan. Melainkan juga krisis ekonomi, pendidikan, politik, kemanusiaan, psikologi, dan lain-lain. Berbagai macam krisis dari berbagai bidang ini akan memicu kita untuk saling menyalahkan satu sama lain. Terutama antara pemerintah dengan rakyatnya. Lihat saja, di berita-berita atau di media sosial, sadar atau tidak, kita sudah kembali terpolarisasi kembali seperti halnya pemilu 2019 kemarin. Yakni, kubu yang mendukung program-program pemerintah dalam mengatasi pandemi, dengan kubu yang paling terpukul akan dampak pandemi sehingga menyalahkan pemerintah. Lagi-lagi, hal ini juga dapat memicu konflik dan perpecahan di antara kita.
Kesimpulan
Jadi itulah 3 hal yang HARUSNYA kita takutkan dari pandemi ini. Mungkin jarang sekali kita sadari saat ini. Tapi percayalah, kita sudah mulai mengarah ke sana. Jadi, apa yang bisa kita lakukan? Pertama, perkuat rasa nasionalisme. Yakinkan pada diri dalam-dalam, bahwa yang sedang mengalami kesulitan di masa-masa ini bukan lah diri kita sendiri, bukanlah keluarga kita sendiri, meski banyak orang-orang beruntung di sana, yang masih bisa survive dari sisi finansial, percayalah bahwa mereka pun sedang berusaha keras membantu kita yang sedang kesulitan juga meskipun tidak secara langsung. Buang jauh-jauh pikiran negatif tentang orang lain, mulai terus kumpulkan pikiran-pikiran positif. Kedua, dekatkan diri pada Tuhan YME, karena hanya Dialah sumber dan penyelenggara kehidupan, mohon petunjuk dan tuntunan untuk keluar dari krisis ini. Ketiga, Peduli lingkungan, baik alam maupun sesama. Perkuat solidaritas dengan tetangga terdekat, dengan teman-teman dan saudara, saling jaga dan saling percaya satu sama lain. Keempat, Open Minded, karena dengan begini membuat diri kita semakin mudah untuk beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang saat ini begitu cepat. Misalnya perubahan-perubahan kebijakan pemerintah, perubahan-perubahan teknologi, dan lain-lain. Hindari semua perdepatan yang gak perlu dan tidak relevan dengan kondisi saat ini. Semua ini kita lakukan agar kita bisa survive dari Pandemi COVID-19. Sekali lagi, jaga diri anda, jaga ksehatan jiwa dan raga anda, mulai dari anda, hingga bisa menjaga orang-orang yang dicintai di sekitar anda.
Kapan Pandemi ini berakhir?
Entahlah, dulu saya mengira tahun 2021 sudah selesai.
Tapi justru begini adanya. Jadi...
Kita harus berubah..
beradaptasi..
karena..
kita Manusia...
Sekian.
Sumber:
https://www.merdeka.com/dunia/4-cerita-penyebab-negara-negara-yang-pernah-bubar.html?page=3
https://aptika.kominfo.go.id/2020/05/kominfo-temukan-1-401-sebaran-isu-hoaks-terkait-covid-19/
https://www.akseleran.co.id/blog/koefisien-gini-adalah/
https://jabar.inews.id/berita/kesenjangan-miskin-dan-kaya-makin-lebar-di-indonesia-salah-siapa
https://www.bbc.com/indonesia/dunia-55734119
https://www.cnbcindonesia.com/news/20210507105403-4-244013/asia-dihantui-corona-tapi-china-sudah-bebas-kemana-mana
Komentar
Posting Komentar